Tuesday, May 29, 2012

The Island President

 Apa jadinya jika sebuah pemutaran film diikuti sesi diskusi langsung dengan pemeran utamanya? Sudah lumrah kali yah. Nah kalau pemutaran film yang sesi diskusinya adalah diskusi langsung dengan mantan presiden, gimana? Eh, emang ada Presiden yang mau main film? Ya adalah. Ini tentang sebuah film dokumenter perjalanan karir seorang Presiden di sebuah negeri yang indah namun penuh gejolak, yang pasti bukan gejolak asmara lho yah.  

Maldives, negara dengan 1190 pulau

Resor mewah di Maldives. Source: http://www.themaldivesresorts.com/

Resor mewah di Maldives. Source: http://www.themaldivesresorts.com/
Izinkan saya bercerita tentang sebuah negeri indah bernama Maldives, negara kepulauan berpenduduk mayoritas muslim. Maldives, bagi kita, mungkin gambaran tempat honey moon yang sempurna, biru lautnya begitu indah, resort-resort mewah dan private tersebar di seantero negeri, rakyatnya pun sangat ramah. Itu hanya beberapa dari sekian alasan untuk mengunjungi Maldives. Namun, ternyata Maldives tak melulu seindah biru lautnya. Ada banyak cerita-cerita tragis yang pernah terjadi di Maldives. Siapa yang tahu kalau ternyata Maldives yang indah itu menyimpan duka, siapa yang tahu kalau banyak warga Maldives yang diculik, ditahan dan disiksa selama 3 dekade kediktatoran pemerintah Presiden Gayoom (1978-2008), siapa yang tahu bahwa pemilu yang berulang kali dilaksanakan di Maldives selalu berakhir dengan kemenangan Gayoum dengan suara mutlak karena memang tidak ada saingan, dan siapa pula yang tahu bahwa keuntungan perijinan resor-resor indah di Maldives ternyata hanya dinikmati oleh segelintir orang. Film "The Island President" mengawali ceritanya dengan kesaksian-kesaksian akan kelamnya kehidupan di bawah kediktatoran Presiden Gayoom.    

Cerita dilanjutkan dengan sosok pemuda yang mempercayai bahwa kediktatoran di Maldives hanya menyengsarakan rakyat. Dialah Mohamed Nasheed (nama gaulnya "Anni"), seorang pemuda Maldives lulusan Inggris yang merasa resah dengan situasi negaranya. Dia ternyata tidak sendiri, dia dan beberapa temannya mulai mengkritisi pemerintah lewat buletin-buletin politik mereka yang menyuarakan demokrasi. Gerah dengan buletin ini, pemerintah Gayoom memenjarakan Nasheed dan teman-temannya. Nasheed dipenjara belasan kali. Saking hobinya dipenjara, Nasheed tidak menyaksikan kelahiran kedua putrinya. Nasheed mengalami sejumlah siksaan fisik dan menyaksikan teman-temannya disiksa oleh petugas penjara. Sebuah kejadian tragis mulai membangkitkan amarah rakyat yang selama itu diam. Nasheed berhasil membangunkan the silent majority lewat tuntutannya untuk memeriksa mayat seorang tahanan, Hassan Evan Nasheem, pemuda 19 tahun yang meninggal di penjara. Luka-luka memar di seluruh tubuh Hassan membuat Maldives bergolak, rakyat murka dan terang-terangan menunjukkan perlawanan terhadap pemerintah. Nasheed. Nasheed akhirnya harus mengasingkan diri ke Sri Lanka dan Inggris di tahun 2003. Dari jauh, Nasheed bersama temannya, Mohamed Latheef, membentuk Maldivian Democratic Party (MDP) sebagai tandingan pemerintah diktator yang sedang berkuasa. Dia kerap dijuluki "the Mandela of Maldives". 
Nasheed digelandang aparat saat melakukan demonstrasi,
Sumber: http://golhaboa.blogspot.com.au/2010/07/no-one-should-be-in-custody-during.html
Di tahun 2005, Nasheed kembali ke Male (ibukota Maldives) dengan disambut ribuan warga yang menaruh banyak harapan padanya. Di tahun 2008, Pemilu multi-partai pertama berlangsung di Maldives dan Nasheed berhasil menjadi Presiden dengan selisih suara yang tak terlalu jauh dengan presiden sebelumnya, Gayoom. Apa tugas pertamanya begitu menjadi Presiden? Nasheed melakukan survei kepada rakyat Maldives tentang hal mendasar yang paling mereka butuhkan. Ternyata, rakyat Maldives sangat resah dengan air laut yang makin naik dan mengancam tempat tinggal penduduk. Malah ibukota Maldives, Male, pernah mengalami tsunami hebat di tahun 2004 yang menenggelamkan dua per tiga dari kota ini. Semakin intensnya bencana di Maldives membuat Nasheed sadar bahwa perubahan iklim bukanlah ancaman yang akan terjadi 10 atau 20 puluh tahun yang akan datang, karena dampak perubahan iklim sudah terasa di Maldives SEKARANG. Nasheed pun sadar bahwa Maldives yang hanya memiliki ketinggian rata-rata 1.5 meter di atas permukaan laut hanya akan tinggal nama jika tidak diselamatkan. Siapa yang bisa menyelamatkan Maldives? Tentunya bukan hanya Maldives saja, akan tetapi negara-negara lain yang telah banyak memberi sumbangsih emisi rumah kaca. Nasheed kemudian merencanakan serangkaian lobi dengan negara-negara kunci untuk mendapatkan dukungan dan meminta negara-negara lain untuk menurunkan emisi nya demi menyelamatkan rakyat Maldives yang terancam tenggelam. Sebuah pernyataan Nasheed yang membuat saya tertegun: 

"It won't be any good to have democracy, if we don't have a country" 
(Tidak akan ada gunanya Maldives berasaskan demokrasi, jika kami tidak memiliki negara) 

Serangkaian kunjungan dilakukan oleh Nasheed ke sejumlah negara seperti ke Inggris, India, Amerika dan bertemu dengan pemimpin negara-negara kepulauan kecil di Amerika sebagai persiapan menuju ke pertemuan Internasional Perubahan Iklim di Copenhagen 2009. Nasheed dalam melakukan lobi-lobi politiknya, didampingi oleh ilmuwan Inggris yang menjadikan lobi politiknya bermakna dan ilmiah. Di film ini, jelas terlihat betapa lihainya sosok Nasheed dalam melakukan perundingan, sosok nya mungil, komentarnya lucu dan straight to the point. Dia sosok yang sangat berani mengemukakan pendapatnya. Nasheed berusaha mencegah agar negara-negara peserta pertemuan Internasional Perubahan Iklim tidak menyetujui kenaikan suhu maksimum dua derajat sebagai kesepakatan global (FYI, suhu bumi sekarang diperkirakan sudah naik 0.8 derajat). Karena, dengan kenaikan dua derajat, sudah pasti rakyat Maldives, Tuvalu dan negara-negara kepulauan kecil lainnya akan terancam punah akibat perubahan siklus hidrologi global dengan kenaikan dua derajat tersebut. Di Copenhagen, sosok Nasheed adalah salah satu tokoh kunci yang menyebabkan konferensi tersebut tidak jadi "deadlock". Keterlibatannya dalam negosiasi di Copenhagen berhasil mencairkan kebekuan antara negara-negara maju yang enggan berkomitmen untuk mengurangi emisi dengan negara-negara berkembang yang menuntut negara-negara maju untuk mengurangi emisi. Meski hasil perundingan di Copenhagen kerap dianggap gagal, toh negara-negara penghasil emisi terbesar, China, Brazil dan Amerika, akhirnya bersedia menurunkan emisinya. Di Copenhagen pula, Nasheed didaulat sebagai Presiden Dunia (the Global President) oleh para aktivis yang bersimpati dengan perjuangannya dan rakyat Maldives yang terancam tenggelam.   
The Island President 
Di negara nya sendiri, sang Presiden merubah total kebijakan energinya. Maldives merupakan negara pertama yang mencanangkan negaranya sebagai negara pertama yang akan menjadi carbon neutral (tidak menghasilkan emisi gas rumah ke kaca ke atmosfer) di tahun 2019. Perubahan dimulai di kantor presiden yang mulai menggunakan solar panel. Bahkan, sang presiden ikut ke atap bangunan untuk ambil bagian memasang solar panel di atap istana. Selain itu, pertemuan bawah laut pertama di dunia dilakukan di Maldives sebagai sindiran kepada negara-negara lain tentang rakyat Maldives yang mungkin akan tenggelam oleh dosa-dosa yang mereka tidak lakukan. Saat ditanya oleh seorang wartawan: 

"Kalaupun Maldives carbon neutral, itu tidak akan berarti apa-apa kan jika negara-negara yang lain tidak melakukan hal yang sama?" 

Apa jawab Nasheed? 

"Yeah, ... But at least we die doing the right thing" 
(Yah anda benar, namun setidaknya kami mati dengan melakukan hal yang benar) 

Lagi-lagi saya tertegun.

Rapat negara bawah laut pertama di dunia.
Sumber: http://www.worldculturepictorial.com/blog/content/worlds-first-underwater-cabinet-meeting-maldives-min

Film ini toh tidak melulu berisi negosiasi politik perubahan iklim, ada banyak kelucuan-kelucuan yang muncul. Sang presiden yang kocak dan komentar-komentar nya yang slenge'an kerap mengundang tawa. Film ini adalah film dokumenter yang meliput keseharian sang Presiden dan perjalanan politik serta negosiasinya menuju ke Copenhagen. Sayangnya, sang Presiden digulingkan oleh militer di bulan Februari 2012 dan saat ini sedang dikejar-kejar oleh Pemerintah Maldives. 
A video conference with Presiden Nasheed, live from Wellington 
Ternyata kejutan tidak hanya berakhir di sini. Setelah pemutaran film, nampaklah sosok yang sangat kami kenal, sang pemeran utama film ini, Bapak Mantan Presiden Maldives: Mohammed Nasheed. Seperti yang saya duga, dia benar-benar sosok yang kocak namun tegas. Dengan rendah hati Nasheed merendah bahwa dia tidak memiliki andil yang berarti di Copenhagen. Visinya akan demokrasi di Maldives tidak berhenti hanya karena ia digulingkan. Cita-citanya akan Maldives yang berdemokrasi dan selamat dari kekejaman alam dan manusia sangat jelas nampak. Mimpi dan harapannya tidak pernah padam. 

The Island President bukan hanya tontonan biasa akan tetapi tontonan yang akan mengajak kita melihat tempat lain di dunia yang ternyata terancam oleh kerusakan yang kita lakukan. Film ini juga menunjukkan kegigihan seorang pemimpin yang rela melakukan apapun demi keselamatan rakyatnya. Nasheed bukan sosok pemimpin yang hanya bisa prihatin, dia prihatin, belajar dan beraksi langsung untuk keselamatan rakyatnya. Sebuah film yang wajib ditonton. Sangat menghibur dan sarat akan pesan.

Testimoni: 

Beberapa komentar teman-teman Maldives setelah menonton film ini: 
Nasheed a.k.a Anni 

"I am a big fan of him, and I voted him in the last election and I only want to vote for him" 
(Saya adalah fans beratnya (Nasheed). Saya dulu memilih dia dan saya hanya akan memilih dia) 

"Apart from the political story, the movie was superb" 
(Terlepas dari cerita politiknya, film ini keren banget) 

"He is still my president..........." 
(Dia (Nasheed) masih presiden saya.....)

Trailer the Island of President



Thursday, May 17, 2012

Salju Pertama

Sebagai penghuni negara tropis, sudah lumrah memang jika kita sangat ingin melihat dan merasakan salju.  Itu terjadi pada saya. Saya begitu ingin merasakan yang namanya salju, pengen pegang dan pengen lempar-lemparan bola salju. Saya sampe berencana bikin minuman pake bongkahan es salju plus sirup ABC kalau ada jodoh bertemu salju. Beginilah korban tivi, yang sejak kecil dibesarkan dengan film Oshin yang banyak memiliki adegan bersalju. Pokoknya, mereka yang berpose bersama salju itu kesannya keren. 

Mimpi itu hampir terwujud saat saya diberi kesempatan tinggal di Saga, sebuah perfektur kecil di Pulau Kyushu, Jepang. Sayangnya letaknya yang di bagian selatan kurang strategis untuk mendapatkan nikmat salju, tidak seperti Hokkaido, Tokyo, Osaka dan Kyoto yang terletak lebih utara. Demi ambisi melihat salju, saya merencanakan perjalanan ke Kyoto di akhir bulan Desember dan melihat salju pertama saya di sana. Di Kyoto, saya menjadi pendatang "gelap" di sebuah asrama pabrik perusahaan Jepang yang dihuni TKI TKI asal Indonesia. Saya dimasukkan ke asrama ini pun via jendela asrama (demi sebuah tumpangan gratis di kota Kyoto yang mahal gila). Jadi begitu terbangun dan melihat salju, saya tidak bisa bebas keluar dari asrama dan bermain perang bola salju. Kalau ketangkap satpam perusahaan, bisa-bisa saya dan rekan-rekan Indonesia yang menampung saya kena masalah. Jadilah saya mengagumi salju pertama itu "cukup" dari jendela. Hari-hari berikutnya, salju masih turun namun niatan perang bola salju harus dikubur terlebih dahulu karena banyaknya tempat yang ingin saya kunjungi. Selain itu, saya juga tidak punya lawan untuk berperang. It was my first solo traveling in a country whose language I can't barely speak. 
Foto norak pertama bersama salju.....  Self taken 
Saya meninggalkan Kyoto dan mengubur impian bermain bola salju. Saga toh tidak akan bersalju, paling cuman dingin doang. Harapan menikmati salju itu sudah sirna saat memasuki bulan Februari mengingat Saga memang jarang dapat salju. 

Suatu pagi di bulan Februari, saya dibangunkan oleh gedoran di pintu asrama. 

"Cipu, Cipu, wake up wake up", tiga suara tenor sahut-sahutan membangunkan saya

Dengan gedoran pintu yang bertubi-tubi dan teriakan tiga orang teman (Jamal dari Bangladesh, Yama dari Vietnam dan Kang dari Korea), saya bangun dengan panik. Saya berpikir ada kebakaran. Saya dengan panik langsung membuka pintu kamar saya. 

"You gotta see this...." Yama langsung menarik saya ke depan asrama diikuti oleh Jamal dan Kang. 
first snow in Saga.... See how norak we were.... We are still norak now though 
Saya tercekat dengan pemandangan di halaman asrama saya. Salju? Bulan Februari? Di Saga? For God sake, is it real? Berhubung saat itu saya blom tahu apa-apa tentang global warming dan sejenisnya, saya merasa takjub. Ini kejadian yang tidak lumrah, melihat salju di Saga di bulan Februari. Dengan muka natural (baca: belum mandi), kami langsung berpose di depan asrama dengan gaya-gaya norak. We are celebrating the February snow in Saga. Beberapa orang yang lewat menatap aneh pada kami, segerombolan mahasiswa asing yang narsisnya gak ketulungan di depan asrama di tengah dinginnya Saga pagi itu.
Pemandangan sawah bersalju dari kamar saya di Seifu Ryo, Saga. 
Siangnya, saat jam makan siang, lapisan salju sudah sangat lebat di depan kelas. Dipromotori oleh Katarina dari Slovakia, kami mulai menyalju (bermain dengan salju). Saya mulai mengais-ngais salju dan membuat bulatan, mengikuti teman-teman yang lain. 

"Cipu, is this your first time touching snow"(Cipu, ini pertama kali yah kamu menyentuh salju?), tanya Katarina. 

"No, I saw it and touched it in Kyoto" (Nggak, saya pernah lihat dan menyentuh salju di Kyoto), jawab saya sambil terus mengais salju dan menyiapkan peluru salju. 

Katarina menghampiri Jamal dan menanyakan hal serupa. 

"Is this your first time Jamal?"(Jamal, salju pertama yah?), tanya Katarina 

"Yes, today it is my first time seeing snow and I am very hap......." (Iya, hari ini saya pertama kali melihat salju dan saya sangat sen...)

Belum selesai ucapan Jamal, sebuah bola salju sudah bersarang di tengkuknya. 

"SAMUIIIIIIIIIIIIIIIIII........", (Samui berarti dingin dalam bahasa Jepang) Jamal sontak berteriak dan menggigil kedinginan. And the snow ball fight was officially started. 

Menurut Katarina, itu adalah tradisi plonco di Slovakia kepada mereka yang baru pertama kali melihat salju, yang diamini Samuel dari Prancis. Tengkuk Yama adalah target plonco kedua setelah Jamal. 

Ternyata bukan hanya kami yang berperang bola salju, guru-guru kami dan staf bagian mahasiswa internasional ikut ambil bagian dalam perang bola salju itu. Jadilah pelataran kampus diisi dengan belasan orang yang saling melempar bola salju, penuh gelak tawa, tidak ada kawan ataupun lawan. Sungguh sebuah hari yang bahagia bagi saya dan teman-teman sekelas. 
First timers and the snow experts 
Akhirnya, impian bermain bola salju itu tercapai juga. Meski demikian, ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan. Salju itu memang indah saat dilihat di TV, tetapi jangan tanya bagaimana tersiksanya saat musim dingin. Kulit saya yang sangat tropis benar-benar kewalahan dengan suhu dingin yang menusuk. Salju mungkin memang indah, tapi hanya untuk sehari saat pertama kali menyentuhnya. Hari-hari bersalju berikutnya, saya dan teman-teman lebih banyak mengeluh dan meminta musim semi untuk segera datang. Kami butuh kehangatan. 

Tuesday, May 1, 2012

Disangka teroris

Sudah menjadi kebiasaan saya untuk selalu mengenakan masker saat saya kena influenza, apalagi saat saya berada di luar rumah. Kebiasaan ini awalnya saya pelajari saat saya sekolah di Jepang dulu. Adalah Shibata sensei, guru bahasa Jepang kami yang setiap minggu memberikan kelas Bahasa Jepang. Saat memasuki musim dingin, beliau selalu mengenakan masker setiap kali tiba di kampus. Penasaran, saya bertanya sama dia dengan bahasa Jepang terbata-bata. 

"Shibata Sensei sedang flu kah? Kok pake masker?" 

"Mmmm saya tidak kena flu, tapi sekarang sedang musim flu. Saya pake masker karena saya tidak ingin tertular", kali ini Shibata Sensei menjelaskan dengan menggunakan bahasa Inggris, karena kalau menjelaskan dengan Bahasa Jepang. dia yakin saya tidak akan mengerti. Maklum, saya waktu itu masih kelas NOL kecil Bahasa Jepangnya. 
Pengguna masker di Jepang. Gambar diambil di http://inventorspot.com/articles/flu_masks_lined_ostrich_antibodies_fly_shelves_28464
Saya semakin sering memperhatikan bahwa pada saat musim flu, hampir sebagian pengguna kereta atau bus di tempat saya mengenakan masker. Ada dua alasan: Pertama. Pengguna masker mungkin sedang flu dan tidak ingin menularkan penyakitnya ke orang lain. Kedua. Pengguna masker mungkin tidak menderita flu, tapi berjaga-jaga agar tidak ketularan flu. Untungnya di Jepang saya tidak pernah sakit, mungkin karena waktu itu saya masih muda dan rajin berolahraga. Tssaaahh 

Kebiasaan menggunakan masker saat flu akhirnya terbawa saat saya sudah memasuki dunia kerja. Saya selalu menyiapkan masker saat saya flu. Dan ternyata, teman-teman kerja saya pun banyak yang menerapkan kebiasaan ini. Jadi saat sedang musim flu, teman-teman kantor mengenakan masker. 

*************

Saat ini Melbourne sedang musim flu. Sudah banyak teman-teman yang terkena flu, saya dan seisi rumah tidak mau kalah berpartisipasi dalam musim flu ini. Kami serumah terkena flu, kawan. Berita buruknya, deadline tugas makin dekat di musim flu ini. Mungkin stres dan suhu yang dingin menjadikan flu ini makin betah di dalam tubuh saya. 

Layaknya hari Senin sebelumnya, saya dan teman-teman kampus sudah menjadwalkan akan makan siang bersama. Kebetulan, tema kita siang itu adalah makanan Jepang. Lokasi tempat makan yang kami tuju adalah EGG Sake Bistro yang terletak di lantai bawah Union House, kantin kampus kami. Kami berjanji bertemu di EGG pukul 11.45 siang. Saya yang masih flu mengupayakan agar tetap bisa makan siang sama teman-teman. Pastinya saya mengenakan masker, kebiasaan saya kalau kena flu. Saya tiba 5 menit lebih cepat dan langsung memilih tempat duduk yang strategis. Sambil menunggu mereka, saya melanjutkan membaca jurnal kuliah. 
Suasana Egg Sake Bistro menjelang jam makan sing. Gambar diunduh dari
http://retaildesignblog.net/2012/04/11/egg-sake-bistro-by-architects-eat-melbourne/

Saat sedang khusyu-khusyu nya membaca, terasa ada yang medekat. Saya pikir itu teman-teman saya yang sudah tiba. Ternyata bukan. Di depan saya berdiri petugas keamanan kampus. Saya yang tidak merasa melakukan salah apa-apa, tersenyum dibalik masker. Saya yakin, dia tidak menangkap senyuman saya, loh.

"Why are you wearing mask?" (Mengapa kamu pake masker?), kata pak sekuriti ini dengan nada datar. 

"I got flu and I don't want to spread it to my  friends." (Saya kena flu dan saya tidak mau teman saya tertular). 

"Are you sure?" (Kamu yakin itu alasannya?). Kali ini dia mulai menatap curiga. Padahal jelas jelas suara saya bindeng. Dia mungkin berpikir saya akan melakukan tindakan kriminal dan saya berusaha menutupi wajah agar tidak teridentifikasi. Wahhh si pak sekuriti ini benar-benar tinggi daya imajinasinya. Kebanyakan nonton CSI dan sejenisnya nih. Sumpah Pak, saya pake masker ga ada niat mau menjarah. 

"Yup," jawab saya dengan acuh tak acuh dan berharap dia pergi. 

"So is that a severe flu? an acute one?" (Flu yang kamu derita parah banget yah?). Jyaaah dia blom pergi juga. Malah dipikirnya flu saya parah banget sampe harus pake masker. 

"Nah, just a common flu I guess" (Tidak, sepertinya cuman flu biasa). Dia makin menatap curiga dan masih enggan menjauh. 

Untungnya teman-teman datang dan langsung menghampiri meja saya. Melihat bahwa teman-teman saya semuanya tidak ada yang mencurigakan, pak sekuriti itu pun menjauh. Saat saya menceritakan kejadian barusan, si Chris teman saya dari Australia mengatakan bahwa orang Australia memang jarang menggunakan masker saat flu karena menurutnya flu itu cuman penyakit biasa. Dia sendiri mengaku sedang kena flu hari itu. Haruka dan Natsuki, teman saya dari Jepang, juga membenarkan bahwa penggunaan masker di Jepang memang masif saat musim flu tiba. Haruka dan Natsuki sih tahu maksud saya mengenakan masker itu baik, bukan untuk menjarah atau minta ditraktir. 
Salam masker dari Jones Street, Melbourne
Saat saya bertemu dokter, saya lagi-lagi menceritakan kejadian saya disangka teroris itu. Pak dokter cuman tertawa dan berkata: "You did the right thing, boy. Use mask if you get flu" (Yang kamu lakukan sudah benar. Sebaiknya menggunakan masker saat kena flu). Dan sayapun pulang membawa oleh-oleh masker gratis dari puskesmas kampus. 

Yah mungkin pak sekuriti nya aja yang belom tahu kali.  

Tuesday, April 24, 2012

Manly Scenic Walk - trend jogging ala bule kere

Banyak yang beranggapan bahwa Sydney itu adalah ibukota Australia, mungkin dari sekian kota yang ada di Australia, Sydney lah yang paling banyak disebut orang. Sydney memang kota terbesar di negeri kangguru sekaligus kota terpadat. Tapi, sebenarnya ibukota Australia adalah di Canberra, yang berjarak 96 jam ngesot dari Sydney (baca: 2 jam naik bus). Saya sudah sempat berkunjung tahun lalu ke kota ini, namun kali ini saya kedatangan tamu dari Indonesia yang berniat menyambangi Sydney, saya dengan senang hati menemani. 

Adalah Mila Said, mantan teman kantor sekaligus travel buddy dan teman wisata kuliner yang menjadi tamu saya kali ini. Setelah puas menikmati hangatnya kota Melbourne, Mila melanjutkan langkahnya ke Sydney. Saya tanpa diminta ikut menemani Mila ke Sydney, sekalian sedikit menyegarkan otak. Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 11 jam dengan bus, tibalah kami di jantung kota Sydney. Jam menunjukkan pukul 6 pagi saat kami tiba di Sydney. 

Cuaca Sydney cukup berkabut pagi itu, Mila sudah berfirasat buruk kalo kota Sydney tidak menghendaki kedatangannya. (Dasar ABG labil...). Tujuan pertama kami adalah ke Circular Quay, yang menjadi tempat berdirinya Sydney Opera House yang terkenal itu. Mila berjalan sambil menarik koper kecilnya menuju ke Sydney Opera House yang nampak misterius berbalut kabut. Tapi kabut sepertinya memang enggan mengabulkan keinginan kami berdua mengabadikan momen di depan Opera House. Selanjutnya: kami menunggu kabutnya menipis. 
Cieeh Mila akhirnya kesampean foto sama bule di Sydney Opera House
foggy Sydney

Untungnya cuaca kembali bersahabat. Setelah sekitar sejam menunggu kabut menipis, saya dan Mila mencoba mengarungi perairan Sydney yang membawa kami dari Circular Quay ke Manly Wharf. Bagi yang sering menyaksikan the Amazing Race, pasti tidak asing dengan Manly Wharf. Manly Wharf adalah lokasi tantangan menyelam bersama hiu dalam show the Amazing Race. Koper masih ditarik-tarik Mila saat kami mengarungi samudera menggunakan kapal feri. Saat tiba di Manly Wharf, kami melihat ada papan petunjuk yang bertuliskan "Manly Scenic Walk 9 km". Eh? Ada tracking jogging di tengah kota? Keren banget yah. 
Manly scenic walk

kolam renang air laut, gratis berenang

Berhubung itu satu satunya atraksi gratisan di wilayah itu, jadilah kami menyusuri Manly Scenic Walk. Pagi yang sedikit berkabut itu rupanya tak menghalangi sejumlah orang untuk berlari pagi. Sepanjang jalan di Manly Scenic Walk kami berpapasan dengan banyak warga setempat yang memanfaatkan jalur jogging ini. Ada yang berlari, berjalan santai atau sekedar duduk di bangku-bangku yang menghadap ke laut. Beberapa diantara mereka nampak melirik penuh arti kepada kami. Saya sudah yakin mereka berpikir bahwa kami adalah turis kesasar plus turis kere. Mana ada orang jogging sambil menarik koper? Mereka mungkin juga berpikir kami adalah turis yang ga mampu bayar hostel, jadinya bawa koper kemana-mana. Tapi, saya dan Mila sih cuek saja. The dog is barking the convoy passes (baca: anjing menggonggong pangkal kaya).
Manly scenic walk view

another view of manly scenic walk

Matahari semakin terik, aktivitas di Manly Scenic Walk semakin ramai. Beberapa pengunjung nampak mulai mengeluarkan peralatan kayaknya. Ada juga yang mulai mengeluarkan papan selancar. Beberapa mulai menanggalkan pakaian olahraga dan berganti menjadi pakaian renang. Tempat ini juga menjadi sarana pamer anjing sepertinya, kami menemui anjing berbagai ras yang ikut joging bersama tuannya. Selain berpapasan dengan pengunjung, saya serasa dimanjakan dengan pemandangan pantai dan karang di sisi kiri saya dan rumah-rumah berarsitek indah di sisi kanan saya. Mila menunjuk sebuah rumah yang dia paling suka dan mencoba mengambil gambarnya, kami baru ngeh bahwa ternyata yang punya rumah sedang nongkrong di balkon rumahnya. Dia cuma bisa cengengesan melihat ada dua orang aneh depan rumahnya sibuk mengambil foto rumahnya. Yah sir, masak cuman cengengesan sih, ajak kami nginap disitu dong, Gratis.   


Rumah impian Mila

Trend baru: jogging sambil bawa koper

Setelah berjalan cukup lama, kami memutuskan kembali ke Manly Wharf, untuk selanjutnya menaiki kapal Feri yang membawa kami kembali ke Circular Quay. Sebuah pagi yang aneh tapi tetap indah: jogging sambil bawa koper,  mendapat tatapan-tatapan seribu jarum dari penduduk setempat karena joggingnya sambil bawa koper, dan kedapatan sedang nunjuk sebuah rumah sebagai rumah impian saat yang punya rumah sedang di balkonnya. Saatnya mengitari sudut kota Sydney yang lain. 

Saturday, April 14, 2012

Wisata kuliner keliling Asia

Menjadi mahasiswa internasional di Melbourne terkadang tidak mudah. Ada saja tantangan yang muncul. Itu yang saya rasakan saat pertama kali tiba di Melbourne. Saya merasakan kesulitan untuk berbaur dengan mahasiswa lain, apalagi mahasiswa lokal (baca: mahasiswa Australia). Mungkin memang agak susah untuk berteman dengan mereka karena kultur yang berbeda. Orang-orang Asia pada umumnya ramah dan (agak) pemalu, sedangkan mahasiswa-mahasiswa lokal cenderung cuek dan lebih individual. Ditambah lagi, mahasiswa-mahasiswi lokal sudah punya lingkaran pertemanan sendiri karena mereka memang sudah lahir disini. Toh, ternyata cuek tidak berarti mereka sombong. Mereka sebenarnya lumayan bersahabat namun memang butuh waktu untuk dekat dan kenal dengan mereka. Bahkan, beberapa diantara teman-teman lokal mau membantu saya meng-edit tugas-tugas saya mengingat grammar saya hancur lebur tak berbentuk. 

Saya tahu betapa nelangsa nya menjadi mahasiswa asing di semester pertama. Shock dengan budaya, shock dengan makanan dan shock dengan bacaan kuliah yang tak berhenti dipasok oleh dosen-dosen kamu yang sangat baik hati. Selain itu, terkadang sebagai mahasiswa baru, kita butuh teman untuk berbagi tentang mata kuliah atau masalah-masalah akademik yang lain. Tapi kemana? Akhirnya, ada fenomena geng negara yang muncul di kampus, teman Vietnam jalan dengan teman Vietnam, teman China jalan dengan teman China, teman-teman Latin mainnya sama teman-teman latin. Meski tak sampai menuju ke arah makar, sayang saja rasanya jauh-jauh ke Australia tapi bertemannya dengan teman dari negara yang sama saja. Kuliah di negara masing-masing saja kali... 

4 minggu yang lalu, saya mulai posting di facebook mengajak teman-teman untuk makan siang bersama setiap hari Senin. Temanya: setiap Senin, kami akan mengunjungi restoran-restoran yang menyajikan makanan khas tiap negara. Gayung bersambut, teman-teman yang lain ternyata sangat antusias untuk makan dan memperkenalkan makanan tradisional masing-masing. Untuk hari Senin pertama, saya sengaja memilih restoran Indonesia murah meriah bernama: Bali Bagus yang letak nya tak jauh dari kampus. 

Makan siang pertama kami berjalan lancar, ada sekitar 10 teman-teman (termasuk anak baru) yang bergabung dan menikmati makanan khas Indonesia. Menu pilihan bersama adalah konro bakar dan sup iga. Semuanya nampak sangat khusyu menikmati makanan sambil sesekali memuji nikmatnya iga bakar yang disiram dengan saus kacang. Harganya yang lumayan murah menjadi nilai tambah Bali Bagus di mata teman-teman yang datang. Selama menikmati hidangan, beberapa teman curhat tentang mata kuliahnya, yang ditimpali oleh teman-teman lain yang sudah pernah mengambil mata kuliah tersebut. Sharing is good, right? (Sayangnya, kami lupa mengabadikan momen di Bali Bagus) 

Senin kedua, kali ini adalah giliran teman-teman Thailand yang harus memandu kami ke warung Thailand murah meriah. Kembali, pesertanya ternyata lebih dari 10 orang. Pad Thai dan tom yam menjadi menu yang paling banyak dipesan. Sayangnya, kelompok kami harus dibagi menjadi dua meja karena kapasitas warung Thailand yang terbatas. Pad Thai yang disajikan sangat enak dengan porsi kuli. Walhasil, saya bungkus sisanya buat makan malam. Suasana makin terbuka, teman-teman makin tidak sungkan untuk berbagi cerita mulai dari kuliah, cerita masa kecil, cerita lucu dan lain lain. Sedikit-sedikit kami belajar beberapa patah kata dari teman-teman Thailand. Lidah saya sudah melet-melet tapi tak kunjung benar juga pelafalannya. Nasib punya lidah bugis kayak gini nih, susah beradaptasi dengan bahasa baru. 
Meja 1: kontingen dari Jepang, China dan Indonesia

Meja 2: Kontingen dari Jepang, China, Taiwan, Vietnam dan Indonesia
Senin lalu adalah Senin ketiga, restoran Sapa Hill di bilangan Footscray menjadi pilihan kami. Restoran Vietnam ini memang sudah menjadi restoran favorit saya sejak setahun lalu. Saya sudah bela-belain gak sarapan demi bisa melahap Pho di resto ini. Dipandu oleh teman-teman Vietnam, kami mulai memilih menu. Saya, mewakili teman-teman, mencoba menyebutkan menunya dalam bahasa Vietnam. Hasilnya, sang waiter melongo mendengar bahasa Vietnam dari mulut saya, bahasa Vietnam aksen Bugis. Untungnya segera dibenarkan oleh teman Vietnam kami. Menu favorit hari itu adalah Pho berisi bakso dan brisket. Saya yang memang sudah hungry doesn't help, langsung melahap Pho di hadapan saya. Harus saya akui, makanan Vietnam itu sangat sehat, mereka selalu memiliki komposisi makanan yang seimbang (antara daging dan sayur-sayuran). Selepas makan, kami tak menyia-nyiakan kesempatan belanja sayur-sayuran dan daging/ikan segar di Footscray. Footscray adalah surga bagi mamak-mamak buat belanja sayuran, buah, daging dan ikan segar. 
Sapa Hill: one of my favorit restos in Melbourne
Ternyata tak harus travelling jauh jauh untuk bisa berwisata kuliner Asia. Melbourne memiliki sejumlah restoran/warung makan Asia yang cukup representatif. Semakin tidak sabar untuk mencicipi warung warung Asia lainnya di Melbourne. Manfaat acara ini sungguh terasa bagi kami semua, menjadi pelampiasan/pelarian stres kami yang sedang dizzy seven round karena assignment. So, Senin depan, siapa lagi yang mau ikut? 

Glossary:
Hungry doesn't help = lapar gak ketulungan
Dizzy seven round = pusing tujuh keliling

Saturday, April 7, 2012

Earth Hour... Sadar atau Latah?

Earth hour sudah bukan istilah baru di kalangan para blogger atau pengguna twitter di Indonesia. Maklum, kampanya earth hour di Indonesia memang cukup sukses dengan social media sebagai media komunikasinya. Saya senang bahwa kegiatan bersifat kampanye lingkungan ini diterima dengan baik, bahkan dieksekusi secara massal oleh rekan-rekan blogger, pengguna twitter dan para pemerhati lingkungan di Indonesia. Sebuah usaha yang memang patut diapresiasi. 

Earth Hour adalah acara yang didukung oleh WWF dan pertama kali dilaksanakan di Sydney pada tahun 2008. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan isu pemanasan global. Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara mengajak rumah tangga dan kalangan bisnis untuk mematikan lampu dan semua peralatan yang menggunakan listrik selama sejam. Hasilnya, penggunaan listrik selama sejam di Sydney turun sekitar 10%. Sebuah penurunan yang tidak signifikan mungkin, namun setidaknya pesan bahwa menghemat listrik bisa mengurangi emisi gas rumah kaca bisa tersampaikan. Dampaknya, diharapkan setelah kegiatan ini, masyarakat bisa menghemat penggunaan listrik yang ujung-ujungnya akan mengurangi emisi gas rumah kaca. 

Ini adalah aksi peduli warga Australia akan bahaya pemanasan global. Kenapa mereka memutuskan mematikan listrik sebagai aksi kampanyenya? Karena penyumbang emisi terbesar di Australia adalah pembangkit listrik. Pembangkit listrik di Australia menggunakan batu bara sebagai bahan bakar yang notabene sangat tidak ramah lingkungan. Karena pembangkit listrik tenaga batu bara pulalah, Australia masuk dalam 5 besar negara dengan penghasil emisi per kapita tertinggi. Kampanye Earth Hour di Australia sungguh masuk akal, masyarakat di Australia memang butuh mengerti bahwa listrik yang mereka nikmati berasal dari pembangkit yang sangat merusak lingkungan. Menghemat listrik berarti membatasi emisi rumah kaca dalam jumlah yang besar. 

Kenapa Earth Hour akhirnya sukses merambah Amerika? Amerika mempunya cerita emisi yang tak jauh berbeda dengan Australia. Sektor pembangkit listrik di Australia dan Amerika sama-sama memiliki kontribusi sepertiga dari total emisi kedua negara ini. Tak salah memang jika Earth Hour harus dilaksanakan di kedua negara ini. FYI, Amerika masih memegang kendali penghasil emisi per kapita terbesar di dunia. 

Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia, kegiatan ini sudah mulai dilaksanakan secara massal. Jejaring social media sungguh mampu menggerakkan massa untuk mematikan lampu di rumah masing-masing. Kampanye earth hour sudah dimulai beberapa bulan sebelum acara. Sungguh menakjubkan melihat betapa besar animo rekan-rekan untuk melaksanakan earth hour. 
Earth hour ... latah atau sadar? (Retrieved from: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Colosseum_Earth_Hour.jpg)

Tapi apakah Indonesia benar-benar memerlukan Earth Hour? Jawabannya bisa ya dan tidak. Secara teknis, Indonesia sudah kerap mengalami Earth Hour a.k.a pemadaman bergilir dari dia yang namanya tidak bisa disebut.... Lord PLN. Meski kesannya Earth Hour nya maksa, tapi masyarakat toh telah dipaksa melaksanakan aksi dasar Earth Hour yakni memadamkan listrik. Mengingat esensi Earth Hour adalah menghambat laju pemanasan global, saya tidak merasa akan ada dampak signifikan Earth Hour terhadap jumlah emisi di Indonesia. Perlu diingat bahwa listrik di Indonesia jauh lebih ramah lingkungan daripada Australia dan Amerika. Kita banyak menggunakan pembangkit listrik tenaga air yang memproduksi jauh lebih sedikit emisi. Namun, ini toh tidak bisa juga menjadi alasan bagi kita untuk boros listrik. Hemat Listrik itu HARUS!. 

Jika Earth Hour di Indonesia dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan lingkungan, maka pertanyaan selanjutnya adalah pesan apa yang kita akan masukkan saat kampanye Earth Hour dilaksanakan? Penghasil utama emisi di Indonesia adalah penebangan dan pembakaran hutan. Kegiatan ini sukses menjadikan Indonesia sebagai penghasil emisi terbesar ketiga di dunia setelah China dan Amerika. Hebat bukan? Sumber emisi selanjutnya adalah transportasi dan industri. 

Sangat sayang rasanya melihat mereka yang memiliki animo melaksanakan Earth Hour tidak mendapatkan informasi yang cukup tentang Earth Hour. Sangat sayang rasanya jika mereka yang terlibat dalam kegiatan Earth Hour sudah merasa menjadi pahlawan lingkungan hanya dengan mematikan listrik selama sejam. Sangat sayang jika antusiasme mereka melaksanakan Earth Hour tidak diikuti dengan langkah nyata pengurangan emisi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sangat sayang jika kita cuma sadar lingkungan selama sejam dalam setahun. Animo ini harus terus dilanjutkan. Earth hour itu merupakan momentum pengurangan emisi, bukan momentum mematikan lampu.

Saya tertegun saat membaca sebuah pertanyaan di twitter yang kurang lebih "Apakah mematikan lampu motor pada saat berkendara dapat dikategorikan melaksanakan Earth Hour?". Sebuah pertanyaan yang menohok, bagi saya. Mengapa? Karena Earth Hour sudah dimaknai sebagai kegiatan memadamkan lampu, bukan lagi sebagai momentum mengurangi emisi. Saya yakin emisi yang dikeluarkan dari bahan bakar motor jauh lebih besar daripada emisi yang dikeluarkan untuk menyalakan lampu motor. Ditambah lagi, naik motor tanpa lampu bisa berisiko disenggol kendaraan lain, hehehe. Saatnya mengembalikan Earth Hour pada qittahnya. 

Akan sangat baik jika ke depannya Earth Hour dibarengi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bisa berdampak signifikan terhadap emisi di Indonesia misalnya "Pete-pete (Angkot) day", "Car Free Day", "Cycling day" atau mengajak pelaku Earth Hour untuk sama-sama menanam pohon. Dan masih banyak kegiatan lain yang bersifat lokal yang bisa dijadikan pilihan sambil melaksanakan Earth Hour. Kreatif mendandani Earth Hour merupakan jalan untuk menjadikan Earth Hour lebih bermakna. Hal ini juga bisa menampik kritik dari mereka-mereka yang mengatakan bahwa "Earth Hour is stupid and pointless". Earth hour seharusnya menjadi ajang kontemplasi portfolio emisi kita, mempelajari bagaimana kita mencemari alam di sekitar kita. 

Bagi kalian para pelaku Earth Hour 2012 di Indonesia, teruskan semangat cinta lingkungan anda. Tambahkan aksi cinta lingkungan anda. 

You don't save the earth from climate change simply by turning off your lights, but you save the earth when you incorporate the spirit of earth hour in your daily life. Let's think what else can we do to our one and only Earth (Wittoeng, 2012)